Feeds:
Tulisan
Komentar

Halooo…
masih setia menunggu?? hehe
Sory2, baru bisa nulis lagi nih, maklum mahasiswa tingkat akhir banyak yang harus dikerjakan sebelum dibolehkan pakai baju kebesaran alias baju toga. Ini alhamdulillah udah kelar jadi bisa nulis2 lagi =)
Oke, lanjut nih untuk cara mengkategorikan data jadi 3 kategori tetapi KHUSUS UNTUK YANG TERNYATA DISTRIBUSI DATANYA TIDAK NORMAL

ini nih acuannya:
Data Tidak Berdistribusi Normal: Pengelompokan didasarkan pada nilai Kuartil (K1, K2, K3)
Untuk 3 kategori: Pengetahuan Baik: X > K3

Pengetahuan Sedang : K1 ≤ X ≤ K3

Pengetahuan Kurang : X < K1 (Kuartil 1)

tp sebelumnya… bagi yg masih belum tau, saya beri penjelasan singkat yah. Singkat cerita, saya punya judul, Hubungan tingkat pengetahuan dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Kota S. Nah, saya sudah dalam posisi menyebar kuesioner, dan sudah mendapatkan hasil dari kuesioner saya. Disini ada 2 variabel, variabel pengetahuan dan variabel PHBS. Variabel Pengetahuan dlm Definisi Operasional saya kategorinya ada 3, yakni Baik, Sedang, dan Kurang. Nah, untuk menentukan mana responden yang pengetahuannya baik, mana yg sedang, dan mana yg kurang, pastinya harus dikategorikan donk.
Ini contoh data-datanya (TABEL)
data tabulasi excel Pengetahuan x PHBS
Normalnya penelitian kuantitatif minimal butuh 30 responden, tapi berhubung layar laptop saya terbatas, jadinya hanya 22 responden saja yang saya tampilkan. Tapi caranya sama kok :)

Tetap sama caranya, kalau mau dimasukkan ke master tabel SPSS, harus TOTAL SKOR nya yang dicopykan.

Dan setelah di SPSS, untuk pemula bisa baca disini dulu http://freyadefunk.wordpress.com/2013/03/24/cara-menguji-normalitas-data-dengan-spss/#more-410 Disitu ada caranya memberi nama kolom pada SPSS (karena pemberian nama pada SPSS ga bisa sembarangan).

Nah, setelah data dicopy ke master SPSS, Klik Analyze –> Descriptive Statistics –> Frequencies.

Lanjut Baca »

Halo lama tak jumpa, maaf  untuk postingan 3 kategorinya telat ya, hehehe. Maklum lagi sibuk  banyak kerjaan.

Okey, untuk postingan kali ini saya khususkan untuk mengkategorikan data menjadi 3 kategori ( misal: Baik, Cukup, dan Kurang) dengan kondisi jika data berdistribusi normal (ini pura2 nya uji normalitasnya berdistribusi normal).

Untuk tahu datanya berdistribusi normal atau tidak, baca disini http://freyadefunk.wordpress.com/2013/03/24/cara-menguji-normalitas-data-dengan-spss/#more-410

Untuk 2 kategori bisa dibaca disini http://freyadefunk.wordpress.com/2013/03/30/cara-mengkategorikan-variabel-penelitian-dengan-spss-2-kategori/

Nah, kembali ke 3 kategori dgn distribusi data normal

Judulnya masih tetap sama kaya contoh kita yang lalu, datanya juga sama.

Judul: Pengaruh Pengetahuan terhadap Sikap pasien mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.

ketentuannya:

Untuk 3 Kategori: Pengetahuan Baik: X > Mean + SD

Pengetahuan Cukup: Mean-SD ≤ X ≤ Mean+SD

Pengetahuan Kurang: X < Mean-SD

Pertama masukkan data dari excel ke SPSS, lalu klik Analyze –> Descriptive Statistic –> Frequencies.

masukkan kedua variabel baik pengetahuan dan sikap ke kotak variable (s)

Klik Statistics, lalu tampilan gambar akan seperti ini:

kuartil, SDNah, yg dicontreng : Mean, Median, Standar Deviasi, dan Kuartil (atau kalau mau dicontreng semua jg tak apa, tapi yang jelas yang diperlukan dalam part kali ini adalah mean dan  standar deviasi saja).

Lanjut Baca »

Buat Review yah, mengkategorikan variabel yang pake Perhitungan, kita harus tau Normalitas Datanya terlebih dahulu.

nah, gimana caranya menentukan bahwa datanya berbentuk normal atau tidak normal?? Buka disini –> http://freyadefunk.wordpress.com/2013/03/24/cara-menguji-normalitas-data-dengan-spss/

Nah, lanjut yah. Untuk datanya, kita pakai data yang lalu saja, data saat kita membahas uji normalitas.

Kita punya judul penelitian Pengaruh Pengetahuan terhadap Sikap pasien mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.

Disini kita dalam posisi sudah tau distribusi data-data kita. Dalam contoh kita ini, Hasil Uji Normalitas data menunjukkan bahwa data-data baik data variabel Pengetahuan dan variabel sikap sama-sama tidak memiliki distribusi data yang normal.

Jadi, untuk mengkategorikan data menjadi 2 kategori Baik dan Kurang, acuan yang digunakan:

Pengetahuan dikatakan Baik jika X ≥ Median dan pengetahuan dikatakan Kurang jika X < Median.

Cara melihat Median, yaitu dengan mengklik Analyze –> Descriptive Statistic –> Frequencies.

analyze_descriptive statistic_frequencysetelah muncul kotak Frequencies, masukkan kedua variabel baik Pengetahuan dan Sikap ke kotak Variable(s). klik Statistic. Akan muncul Percentile Values, Central Tendency, Dispersion, dan Distribution.

Lanjut Baca »

SPSS – Mengolah Data

Wah, kebanyakan pada bingung nih menghadapi olah-mengolah data waktu penelitian. Dan memang kelihatannya mengolah data itu rumit dan membingungkan plus memusingkan. Hehe

Tapi, tapi, sebenarnya ga terlalu pusing juga kok, kalo tau cara-caranya. (ya iyalah :D)

Yadeh, udah dulu basa-basinya,

Materi SPSS kali ini, UJI NORMALITAS DATA

Dimana distribusi datanya normal jika p value >= 0.05

contoh soal:

Menguji adakah pengaruh antara Pengetahuan dengan Sikap mengenai Pola Makan Sehat.

Tulis dulu perolehan datanya dari kuesioner ke Ms. Excel kaya gini nih contohnya:

(Klik gambar untuk memperbesar)

Tabulasi perolehan data di excel

Untuk jumlah responden, ini contoh aja yah, saya kasih totalnya 22 responden (Biar bisa keliatan waktu di print screen).  Harusnya ga boleh tuh, untuk penelitian minimal harus 30 responden :)

Terus copy jumlah total skor Pengetahuan (Inget, total skornya yg dicopy)

Lanjut Baca »

Teori Jean Ball

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Jean Ball – Teori Kursi Goyang (Deck-Chair Theory)

Tentang Kesejahteraan Emosional Maternal

 A.    Pengertian Teori Jean Ball

Teori Jean Ball adalah dasar pemikiran menurut penelitian yang bernama Jean Ball, seorang midwife(bidan) dari British. Beliau melakukan risetnya secara intensif terhadap kebutuhan wanita pada masa postnatal, dan konsekuensinya bagi wanita yang mendapat asuhan dari berbagai unit pelayanan.

Teori ini mengemukakan tentang keseimbangan emosional itu, yang diibaratkan pada kursi “goyang”. Teori ini sering disebut kursi goyang karena tingkat emosional seorang ibu harus berada pada titik seimbang (stabil) sehingga mirip dengan kursi goyang dimana beban harus seimbang pada titik tumpu, karena jika tidak, kursi akan condong ke arah yang memiliki beban yang berat, begitu juga dengan pengendalian emosional seseorang.

B.     Tujuan Teori Jean Ball

Agar ibu mampu melaksanakan tugasnya sebagai ibu secara fisik maupun psikologis. Psikis dalam hal ini tidak hanya pengaruh emosional tapi juga proses emosional agar tujuan akhir memenuhi kebutuhan untuk untuk menjadi orang tua terpenuhi. Dalam hal ini dukungan dari suami dan keluarga sangat diperlukan demi psikologis (kejiwaan) seorang ibu.

C.    Hipotesa Jean Ball

“Respon emosinal terhadap perubahan setelah melahirkan akan dipengaruhi oleh personality / kepribadian dan dukungan yang diterima dari system support/dukungan keluarga dan sosial. Cara asuhan yang diberikan oleh bidan selama postnatal akan mempengaruhi proses emosional wanita terhadap perubahan setelah kelahiran.”

D.    Teori Jean Ball

Pembagian Teori Jean Ball mencakup 3 kategori yaitu :

Lanjut Baca »

WABAH (Epidemiologi)

A. Pengertian
Secara umum Wabah dapat diartikan sebagai kejadian penyakit melebihi dari normal (kejadian yang biasa terjadi). Banyak definisi yang diberikan mengenai wabah baik kelompok maupun para ahli diantaranya :
• Wabah adalah penyakit menular yang terjangkit dengan cepat, menyerang sejumlah besar orang didaerah luas ( KBBI : 1989 ).
• Wabah adalah peningkatan kejadian kesakitan atau kematian yang telah meluas secara cepat, baik jumlah kasusnya maupun daerah terjangkit ( depkes RI, DirJen P2MPLP : 1981).
• Wabah adalah kejadian terjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka ( UU RI No. 4 tahun 1984 ).
• Wabah adalah terdapatnya penderita suatu penyakit tertentu pada penduduk suatu daerah, yang nyata jelas melebihi jumlah biasa ( Benenson : 1985 )
• Wabah adalah timbulnya kejadian dalam suatu masyarakat, dapat berupa penderita penyakit, perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, atau kejadian lain yang berhubungan dengan kesehatan yang jumlahnya lebih banyak dari keadaan biasa ( Last : 1981 )
• Wabah penyakit menular adalah kejadian terjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan mala petaka (UU No.4, 1984)
• Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologi pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu (Peraturan Menteri Kesehatan RI, Nomor 560/Menkes/Per/VIII/1989)
Tiga k bomponen wabah :
1. Kenaikan jumlah penduduk
2. Kelompok penduduk disuatu daerah
3. Waktu tertentu
Alasan melakukan penyelidikan adanya kemungkinan wabah :
• Mengadakan penanggulangan dan pencegahan
a) Ganas tidaknya penyakit
b) Sumber dan cara penularan
c) Ada atau tidaknya cara penanggulangan dan pencegahan
• Kesempatan mengadakan penelitian dan pelatihan
• Pertimbangan program
• Kepentingan umum, politik, dan hukum

B. Pembagian Wabah Menurut Sifatnya
1. Common Source Epidemic
Adalah suatu letusan penyakit yang disebabkan oleh terpaparnya sejumlah orang dalam suatu kelompok secara menyeluruh dan terjadi dalam waktu yang relatif singkat. Adapun Common Source Epidemic itu berupa keterpaparan umum, biasa pada letusan keracunan makanan, polusi kimia di udara terbuka, menggambarkan satu puncak epidemi, jarak antara satu kasus dengan kasus, selanjutnya hanya dalam hitungan jam,tidak ada angka serangan ke dua.
2. Propagated/Progresive Epidemic
Bentuk epidemi dengan penularan dari orang ke orang sehingga waktu lebih lama dan masa tunas yang lebih lama pula. Propagated atau progressive epidemic terjadi karena adanya penularan dari orang ke orang baik langsung maupun melalui vector, relatif lama waktunya dan lama masa tunas, dipengaruhi oleh kepadatan penduduk serta penyebaran anggota masya yang rentan serta morbilitas dari pddk setempat, masa epidemi cukup lama dengan situasi peningkatan jumlah penderita dari waktu ke waktu sampai pada batas minimal anggota masyarakat yang rentan, lebih memperlihatkan penyebaran geografis yang sesuai dengan urutan generasi kasus.

C. Kriteria Kerja Wabah / KLB
Kepala wilayah / daerah setempat yang mengetahui adanya tersangka wabah (KJB penyakit menular) diwilayahnya atau tersangka penderita penyakit yang dapat menimbulkan wabah, wajib seera melakukan tindakan – tindakan penanggulangan seperlunya, dengan bantuan unit kesehatan setempat, agar tidak berkembang menjadi wabah (UU No. 4 dan PerMenKes 560/ MenKes/ Per/ VIII/ 1989).
Suatu kejadian penyakit atau keracunan dapat dikatakan KLB apabila memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada/ tidak dikenal.
2. Peningkatan kejadian penyakit/ kematian terus – menerus selama tiga kurun waktu berturut – turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu).
3. Peningkatan kejadian penyakit/ kematian, dua kali atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam, minggu, bulan, tahun).
4. Jumlah penderita baru dalam suatu bulan menunjukan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan angka rata – rata perbulan dalam tahun sebelumnya.
5. Angka rata – rata perbulan selama satu tahun menunjukan kenaikan dua kali lipat atau lebih dibandingkan dengan angka rata – rata perbulan dari tahun sebelumnya.
6. Case fatality rate ( CFR ) suatu penyakit dalam suatu kurun waktu tertentu menunjukan kenaikan 50% atau lebih, dibandingkan dengan CFR dari periode sebelumnya.
7. Proportional rate ( PR ) penderita dari suatu periode tertentu menunjukan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan periode,
8. kurun waktu atau tahun sebelumnya.
9. Beberapa penyakit khusus menetapkan kriteria khusus : cholera dean demam berdarah dengue.
• Setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya ( pada daerah endemis ).
• Terdapat satu atau lebih penderita baru dimana pada periode empat minggu sebelumnya, daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit yang bersangkutan.
10. Beberapa penyakit seperti keracunan, menetapkan satu kasus atau lebih sebagai KLB.
• Keracunan makanan
• Keracunan pestisida
11. Satu kenaikan yang kecil dapat saja merupakan KLB yang perlu ditangani seperti penyakit poliomylitis dan tetanus neonatorum kasus dianggap KLB dan perlu penanganan khusus.

Peningkatan jumlah kasus atau penderita yang dilaporkan belum tentu suatu wabah (pseudo epidemik) karena peningkatan penderita tersebut bisa karena :
• Perubahan cara pencatatan
• Ada cara – cara dignosis baru
• Bertambahnya kesadaran penduduk untuk berobat
• Ada penyakit lain dengan gejala sama
• Jumlah penduduk bertambah

Lanjut Baca »

BAB II

PENGARUH ALKOHOL

A.    ALKOHOL

Alkohol adalah minuman yang mengandung etanol (Etil Alkohol). Alkohol masuk golongan NAPZA (Narkotika Alkohol Psikotropika, dan zat adiktif lainnya). NAPZA adalah bahan/zat yang bila masuk ke dalam tubuh akan mempengaruhi tubuh terutama susunan syaraf pusat/otak sehingga bilamana disalahgunakan akan menyebabkan gangguan fisik, psikis/jiwa dan fungsi sosial.

B.     PENYEBAB WANITA MENGKONSUMSI ALKOHOL

1. Faktor Keluarga

Keluarga yang memiliki sejarah (termasuk orang tua) mengalami ketergantungan alkohol. Keluarga dengan menejemen keluarga yang kacau, yang terlihat dari pelaksanaan aturan yang tidak konsisten dijalankan oleh ayah dan ibu (misalnya, ayah bilang ya, ibu bilang tidak). Keluarga dengan konflik yang tinggi dan tidak pernah ada upaya penyelesaian yang memuaskan semua pihak yang berkonflik. Konflik dapat terjadi antara ayah dan ibu, ayah dan anak, ibu dan anak, maupun antar saudara. Keluarga dengan orang tua yang otoriter. Di sini peran orang tua sangat dominan, dengan anak yang hanya sekedar harus menuruti apa kata orang tua – dengan alasan sopan santun, adat istiadat, atau demi kemajuan dan masa depan anak itu sendiri – tanpa diberi kesempatan untuk berdialog dan menyatakan ketidaksetujuannya.
Keluarga yang perfeksionis, yaitu keluarga yang menuntut anggotanya mencapai kesempurnaan dengan standar tinggi yang harus dicapai dalam banyak hal

Keluarga yang neurosis, yaitu keluarga yang diliputi kecemasan dengan alasan yang kurang kuat, mudah cemas dan curiga, dan sering berlebihan dalam menanggapi sesuatu.

2. Faktor Kepribadian

Kepribadian penyalahguna alkohol juga turut berperan dalam perilaku ini. Pada remaja, biasanya penyalahguna alkohol memiliki konsep diri yang negatif dan harga diri yang rendah. Perkembangan emosi yang terhambat, dengan ditandai oleh ketidakmampuan mengekspresikan emosinya secara wajar, mudah cemas, pasif agresif dan cenderung depresi, juga turut mempengaruhi.

Selain itu, kemampuan remaja untuk memecahkan masalahnya secara adekuat berpengaruh terhadap bagaimana ia mudah mencari pemecahan masalah dengan melarikan diri. Hal ini juga berkaitan dengan mudahnya ia menyalahkan lingkungan dan lebih melihat faktor-faktor di luar dirinya yang menentukan segala sesuatu. Dalam hal ini, kepribadian yang dependen dan tidak mandiri memainkan peranan penting dalam memandang alkohol sebagai satu-satunya pemecahan masalah yang dihadapi.

Sangat wajar bila dalam usianya remaja membutuhkan pengakuan dari lingkungan sebagai bagian pencarian identitas dirinya. Namun bila ia memiliki kepribadian yang tidak mandiri dan menganggap segala sesuatunya harus diperoleh dari lingkungan, akan sangat memudahkan kelompok teman sebaya untuk mempengaruhinya menyalahgunakan alkohol. Di sinilah sebenarnya peran keluarga dalam meningkatkan harga diri dan kemandirian pada anak remajanya.

3. Faktor Kelompok Teman Sebaya

Kelompok teman sebaya dapat menimbulkan tekanan kelompok, yaitu cara teman-teman atau orang-orang seumur untuk mempengaruhi seseorang faktoagar berperilaku seperti kelompok itu. Tekanan kelompok dialami oleh semua orang bukan hanya remaja, karena pada kenyataannya semua orang ingin disukai dan tidak ada yang mau dikucilkan.

Kegagalan untuk memenuhi tekanan dari kelompok teman sebaya, seperti berinteraksi dengan kelompok teman yang lebih populer, mencapai prestasi dalam bidang olah raga, sosial dan akademik, dapat menyebabkan frustrasi dan mencari kelompok lain yang dapat menerimanya. Sebaliknya, keberhasilan dari kelompok teman sebaya yang memiliki perilaku dan norma yang mendukung penyalahgunaan alkohol dapat muncul.

Lanjut Baca »

freyadefunk

Blog berisi materi-materi kebidanan dan kesehatan :)

Arleta Fenty - she talks in math

I'm a priest God never paid..

FatmaNita

Serba Serbi Cinta, Teman, Pengetahuan, Lirik, dan Teknologi :)

Fiazku

Kecerdasan Manusia Bodoh

Pithecantropus...

Fatwa Absurdius Puitica Shalalala

Dunia Koponk

koponk adalah berisi,berisi adalah koponk

tututdwijayanti

Just another WordPress.com site

Belibis A-17

Berputar di Lingkaran Kedokteran, Blogging, Musik, Pikiran, Perasaan and Seni

Triwulandari

Berani, Disiplin Dan Setia

Kuliah Bidan

Jalan Panjang untuk menjadi seorang Bidan

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.066 pengikut lainnya.