Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Materi Kuliah Kebidanan’ Category

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Jean Ball – Teori Kursi Goyang (Deck-Chair Theory)

Tentang Kesejahteraan Emosional Maternal

 A.    Pengertian Teori Jean Ball

Teori Jean Ball adalah dasar pemikiran menurut penelitian yang bernama Jean Ball, seorang midwife(bidan) dari British. Beliau melakukan risetnya secara intensif terhadap kebutuhan wanita pada masa postnatal, dan konsekuensinya bagi wanita yang mendapat asuhan dari berbagai unit pelayanan.

Teori ini mengemukakan tentang keseimbangan emosional itu, yang diibaratkan pada kursi “goyang”. Teori ini sering disebut kursi goyang karena tingkat emosional seorang ibu harus berada pada titik seimbang (stabil) sehingga mirip dengan kursi goyang dimana beban harus seimbang pada titik tumpu, karena jika tidak, kursi akan condong ke arah yang memiliki beban yang berat, begitu juga dengan pengendalian emosional seseorang.

B.     Tujuan Teori Jean Ball

Agar ibu mampu melaksanakan tugasnya sebagai ibu secara fisik maupun psikologis. Psikis dalam hal ini tidak hanya pengaruh emosional tapi juga proses emosional agar tujuan akhir memenuhi kebutuhan untuk untuk menjadi orang tua terpenuhi. Dalam hal ini dukungan dari suami dan keluarga sangat diperlukan demi psikologis (kejiwaan) seorang ibu.

C.    Hipotesa Jean Ball

“Respon emosinal terhadap perubahan setelah melahirkan akan dipengaruhi oleh personality / kepribadian dan dukungan yang diterima dari system support/dukungan keluarga dan sosial. Cara asuhan yang diberikan oleh bidan selama postnatal akan mempengaruhi proses emosional wanita terhadap perubahan setelah kelahiran.”

D.    Teori Jean Ball

Pembagian Teori Jean Ball mencakup 3 kategori yaitu :

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

A. Pengertian
Secara umum Wabah dapat diartikan sebagai kejadian penyakit melebihi dari normal (kejadian yang biasa terjadi). Banyak definisi yang diberikan mengenai wabah baik kelompok maupun para ahli diantaranya :
• Wabah adalah penyakit menular yang terjangkit dengan cepat, menyerang sejumlah besar orang didaerah luas ( KBBI : 1989 ).
• Wabah adalah peningkatan kejadian kesakitan atau kematian yang telah meluas secara cepat, baik jumlah kasusnya maupun daerah terjangkit ( depkes RI, DirJen P2MPLP : 1981).
• Wabah adalah kejadian terjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka ( UU RI No. 4 tahun 1984 ).
• Wabah adalah terdapatnya penderita suatu penyakit tertentu pada penduduk suatu daerah, yang nyata jelas melebihi jumlah biasa ( Benenson : 1985 )
• Wabah adalah timbulnya kejadian dalam suatu masyarakat, dapat berupa penderita penyakit, perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, atau kejadian lain yang berhubungan dengan kesehatan yang jumlahnya lebih banyak dari keadaan biasa ( Last : 1981 )
• Wabah penyakit menular adalah kejadian terjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan mala petaka (UU No.4, 1984)
• Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologi pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu (Peraturan Menteri Kesehatan RI, Nomor 560/Menkes/Per/VIII/1989)
Tiga k bomponen wabah :
1. Kenaikan jumlah penduduk
2. Kelompok penduduk disuatu daerah
3. Waktu tertentu
Alasan melakukan penyelidikan adanya kemungkinan wabah :
• Mengadakan penanggulangan dan pencegahan
a) Ganas tidaknya penyakit
b) Sumber dan cara penularan
c) Ada atau tidaknya cara penanggulangan dan pencegahan
• Kesempatan mengadakan penelitian dan pelatihan
• Pertimbangan program
• Kepentingan umum, politik, dan hukum

B. Pembagian Wabah Menurut Sifatnya
1. Common Source Epidemic
Adalah suatu letusan penyakit yang disebabkan oleh terpaparnya sejumlah orang dalam suatu kelompok secara menyeluruh dan terjadi dalam waktu yang relatif singkat. Adapun Common Source Epidemic itu berupa keterpaparan umum, biasa pada letusan keracunan makanan, polusi kimia di udara terbuka, menggambarkan satu puncak epidemi, jarak antara satu kasus dengan kasus, selanjutnya hanya dalam hitungan jam,tidak ada angka serangan ke dua.
2. Propagated/Progresive Epidemic
Bentuk epidemi dengan penularan dari orang ke orang sehingga waktu lebih lama dan masa tunas yang lebih lama pula. Propagated atau progressive epidemic terjadi karena adanya penularan dari orang ke orang baik langsung maupun melalui vector, relatif lama waktunya dan lama masa tunas, dipengaruhi oleh kepadatan penduduk serta penyebaran anggota masya yang rentan serta morbilitas dari pddk setempat, masa epidemi cukup lama dengan situasi peningkatan jumlah penderita dari waktu ke waktu sampai pada batas minimal anggota masyarakat yang rentan, lebih memperlihatkan penyebaran geografis yang sesuai dengan urutan generasi kasus.

C. Kriteria Kerja Wabah / KLB
Kepala wilayah / daerah setempat yang mengetahui adanya tersangka wabah (KJB penyakit menular) diwilayahnya atau tersangka penderita penyakit yang dapat menimbulkan wabah, wajib seera melakukan tindakan – tindakan penanggulangan seperlunya, dengan bantuan unit kesehatan setempat, agar tidak berkembang menjadi wabah (UU No. 4 dan PerMenKes 560/ MenKes/ Per/ VIII/ 1989).
Suatu kejadian penyakit atau keracunan dapat dikatakan KLB apabila memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada/ tidak dikenal.
2. Peningkatan kejadian penyakit/ kematian terus – menerus selama tiga kurun waktu berturut – turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu).
3. Peningkatan kejadian penyakit/ kematian, dua kali atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam, minggu, bulan, tahun).
4. Jumlah penderita baru dalam suatu bulan menunjukan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan angka rata – rata perbulan dalam tahun sebelumnya.
5. Angka rata – rata perbulan selama satu tahun menunjukan kenaikan dua kali lipat atau lebih dibandingkan dengan angka rata – rata perbulan dari tahun sebelumnya.
6. Case fatality rate ( CFR ) suatu penyakit dalam suatu kurun waktu tertentu menunjukan kenaikan 50% atau lebih, dibandingkan dengan CFR dari periode sebelumnya.
7. Proportional rate ( PR ) penderita dari suatu periode tertentu menunjukan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan periode,
8. kurun waktu atau tahun sebelumnya.
9. Beberapa penyakit khusus menetapkan kriteria khusus : cholera dean demam berdarah dengue.
• Setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya ( pada daerah endemis ).
• Terdapat satu atau lebih penderita baru dimana pada periode empat minggu sebelumnya, daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit yang bersangkutan.
10. Beberapa penyakit seperti keracunan, menetapkan satu kasus atau lebih sebagai KLB.
• Keracunan makanan
• Keracunan pestisida
11. Satu kenaikan yang kecil dapat saja merupakan KLB yang perlu ditangani seperti penyakit poliomylitis dan tetanus neonatorum kasus dianggap KLB dan perlu penanganan khusus.

Peningkatan jumlah kasus atau penderita yang dilaporkan belum tentu suatu wabah (pseudo epidemik) karena peningkatan penderita tersebut bisa karena :
• Perubahan cara pencatatan
• Ada cara – cara dignosis baru
• Bertambahnya kesadaran penduduk untuk berobat
• Ada penyakit lain dengan gejala sama
• Jumlah penduduk bertambah

(lebih…)

Read Full Post »

BAB II

PENGARUH ALKOHOL

A.    ALKOHOL

Alkohol adalah minuman yang mengandung etanol (Etil Alkohol). Alkohol masuk golongan NAPZA (Narkotika Alkohol Psikotropika, dan zat adiktif lainnya). NAPZA adalah bahan/zat yang bila masuk ke dalam tubuh akan mempengaruhi tubuh terutama susunan syaraf pusat/otak sehingga bilamana disalahgunakan akan menyebabkan gangguan fisik, psikis/jiwa dan fungsi sosial.

B.     PENYEBAB WANITA MENGKONSUMSI ALKOHOL

1. Faktor Keluarga

Keluarga yang memiliki sejarah (termasuk orang tua) mengalami ketergantungan alkohol. Keluarga dengan menejemen keluarga yang kacau, yang terlihat dari pelaksanaan aturan yang tidak konsisten dijalankan oleh ayah dan ibu (misalnya, ayah bilang ya, ibu bilang tidak). Keluarga dengan konflik yang tinggi dan tidak pernah ada upaya penyelesaian yang memuaskan semua pihak yang berkonflik. Konflik dapat terjadi antara ayah dan ibu, ayah dan anak, ibu dan anak, maupun antar saudara. Keluarga dengan orang tua yang otoriter. Di sini peran orang tua sangat dominan, dengan anak yang hanya sekedar harus menuruti apa kata orang tua – dengan alasan sopan santun, adat istiadat, atau demi kemajuan dan masa depan anak itu sendiri – tanpa diberi kesempatan untuk berdialog dan menyatakan ketidaksetujuannya.
Keluarga yang perfeksionis, yaitu keluarga yang menuntut anggotanya mencapai kesempurnaan dengan standar tinggi yang harus dicapai dalam banyak hal

Keluarga yang neurosis, yaitu keluarga yang diliputi kecemasan dengan alasan yang kurang kuat, mudah cemas dan curiga, dan sering berlebihan dalam menanggapi sesuatu.

2. Faktor Kepribadian

Kepribadian penyalahguna alkohol juga turut berperan dalam perilaku ini. Pada remaja, biasanya penyalahguna alkohol memiliki konsep diri yang negatif dan harga diri yang rendah. Perkembangan emosi yang terhambat, dengan ditandai oleh ketidakmampuan mengekspresikan emosinya secara wajar, mudah cemas, pasif agresif dan cenderung depresi, juga turut mempengaruhi.

Selain itu, kemampuan remaja untuk memecahkan masalahnya secara adekuat berpengaruh terhadap bagaimana ia mudah mencari pemecahan masalah dengan melarikan diri. Hal ini juga berkaitan dengan mudahnya ia menyalahkan lingkungan dan lebih melihat faktor-faktor di luar dirinya yang menentukan segala sesuatu. Dalam hal ini, kepribadian yang dependen dan tidak mandiri memainkan peranan penting dalam memandang alkohol sebagai satu-satunya pemecahan masalah yang dihadapi.

Sangat wajar bila dalam usianya remaja membutuhkan pengakuan dari lingkungan sebagai bagian pencarian identitas dirinya. Namun bila ia memiliki kepribadian yang tidak mandiri dan menganggap segala sesuatunya harus diperoleh dari lingkungan, akan sangat memudahkan kelompok teman sebaya untuk mempengaruhinya menyalahgunakan alkohol. Di sinilah sebenarnya peran keluarga dalam meningkatkan harga diri dan kemandirian pada anak remajanya.

3. Faktor Kelompok Teman Sebaya

Kelompok teman sebaya dapat menimbulkan tekanan kelompok, yaitu cara teman-teman atau orang-orang seumur untuk mempengaruhi seseorang faktoagar berperilaku seperti kelompok itu. Tekanan kelompok dialami oleh semua orang bukan hanya remaja, karena pada kenyataannya semua orang ingin disukai dan tidak ada yang mau dikucilkan.

Kegagalan untuk memenuhi tekanan dari kelompok teman sebaya, seperti berinteraksi dengan kelompok teman yang lebih populer, mencapai prestasi dalam bidang olah raga, sosial dan akademik, dapat menyebabkan frustrasi dan mencari kelompok lain yang dapat menerimanya. Sebaliknya, keberhasilan dari kelompok teman sebaya yang memiliki perilaku dan norma yang mendukung penyalahgunaan alkohol dapat muncul.

(lebih…)

Read Full Post »

Definisi KIPI

Menurut Komite Nasional Pengkajian dan Penaggulangan KIPI (KN PP KIPI), KIPI adalah semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam masa 1 bulan setelah imunisasi. Pada keadaan tertentu lama pengamatan KIPI dapat mencapai masa 42 hari (arthritis kronik pasca vaksinasi rubella), atau bahkan 42 hari (infeksi virus campak vaccine-strain pada pasien imunodefisiensi pasca vaksinasi campak, dan polio paralitik serta infeksi virus polio vaccine-strain pada resipien non imunodefisiensi atau resipien imunodefisiensi pasca vaksinasi polio).

Pada umumnya reaksi terhadap obat dan vaksin dapat merupakan reaksi simpang (adverse events), atau kejadian lain yang bukan terjadi akibat efek langsung vaksin. Reaksi simpang vaksin antara lain dapat berupa efek farmakologi, efek samping (side-effects), interaksi obat, intoleransi, reaksi idoisinkrasi, dan reaksi alergi yang umumnya secara klinis sulit dibedakan.efek farmakologi, efek samping, serta reaksi idiosinkrasi umumnya terjadi karena potensi vaksin sendiri, sedangkan reaksi alergi merupakan kepekaan seseorang terhadap unsure vaksin dengan latar belakang genetic. Reaksi alergi dapat terjadi terhadap protein telur (vaksin campak, gondong, influenza, dan demam kuning), antibiotik, bahan preservatif (neomisin, merkuri), atau unsure lain yang terkandung dalam vaksin.

Kejadian yang bukan disebabkan efek langsung vaksin dapat terjadi karena kesalahan teknik pembuatan, pengadaan dan distribusi serta penyimpanan vaksin, kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan imunisasi, atau semata-mata kejadian yang timbul secara kebetulan. Sesuai telaah laporan KIPI oleh  Vaccine Safety Committee, Institute of Medicine(IOM) USA menyatakan bahwa sebagian besar KIPI terjadi karena kebetulan saja. Kejadian yang memang akibat imunisasi tersering adalah akibat kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan (pragmatic errors).

Etiologi

Tidak semua kejadian KIPI disebabkan oleh imunisasi karena sebagian besar ternyata tidak ada hubungannya dengan imunisasi. Oleh karena itu unutk menentukan KIPI diperlukan keterangan mengenai:

  1. besar frekuensi kejadian KIPI pada pemberian vaksin tertentu
  2. sifat kelainan tersebut lokal atau sistemik
  3. derajat sakit resipien
  4. apakah penyebab dapat dipastikan, diduga, atau tidak terbukti
  5. apakah dapat disimpulkan bahwa KIPI berhubungan dengan vaksin, kesalahan produksi, atau kesalahan prosedur

KN PP KIPI membagi penyebab KIPI menjadi 5 kelompok faktor etiologi menurut klasifikasi lapangan WHO Western Pacific (1999), yaitu:

  1. Kesalahan program/teknik pelaksanaan (programmic errors)

Sebagian kasus KIPI berhubungan dengan masalah program dan teknik pelaksanaan imunisasi yang meliputi kesalahan program penyimpanan, pengelolaan, dan tata laksana pemberian vaksin. Kesalahan tersebut dapat terjadi pada berbagai tingkatan prosedur imunisasi, misalnya:

    • Dosis antigen (terlalu banyak)
    • Lokasi dan cara menyuntik
    • Sterilisasi semprit dan jarum suntik
    • Jarum bekas pakai
    • Tindakan aseptik dan antiseptik
    • Kontaminasi vaksin dan perlatan suntik
    • Penyimpanan vaksin
    • Pemakaian sisa vaksin
    • Jenis dan jumlah pelarut vaksin
    • Tidak memperhatikan petunjuk produsen

Kecurigaan terhadap kesalahan tata laksana perlu diperhatikan apabila terdapat kecenderungan kasus KIPI berulang pada petugas yang sama.

  1. Reaksi suntikan

Semua gejala klinis yang terjadi akibat trauma tusuk jarum suntik baik langsung maupun tidak langsung harus dicatat sebagai reaksi KIPI. Reaksi suntikan langsung misalnya rasa sakit, bengkak dan kemerahan pada tempat suntikan, sedangkan reaksi suntikan tidak langsung misalnya rasa takut, pusing, mual, sampai sinkope.

(lebih…)

Read Full Post »

2.1 Konsep Medis

2.1.1 Pengertian
Masa nifas ( Puerperium ) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalin selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra- hamil. Lama nifas ini yaitu 6-8 minggu. ( Mochtar, Rustam, 1998 : 115 ).
Nifas ialah masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu. ( Obstetri Fisiologi, 1983 : 315 )
Masa nifas mulai setelah partus selesai, dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu. ( Wikonjosastro, 2006 : 237 )
Kala puerperium berlangsung selama 6 minggu atau 42 hari, merupakan waktu yang diperlukan untuk pulihnya alat kandungan pada keadaan normal. ( Manuaba , 1998 : 190 )

2.1.2 Periode Nifas
Nifas dibagi dalam 3 periode, yaitu :
1. Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Dalam agama islam, dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
2. Puerperium yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu.
3. Remote puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan, atau tahunan.
( Mochtar, Rustam, 1998 : 115 )

2.1.3 Perubahan Fisiologi Dan Psikologi
2.1.3.1 Perubahan fisiologi
1. Sistem Reproduksi
A. Uterus
Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil ( involusi ) sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil.
· Bayi lahir fundus setinggi pusat dengan berat uterus 1000 gr.
· Akhir kala III persalinan tinggi fundus uteri teraba 2 jari bawah pusat dengan berat uterus 750 gr.
· Satu minggu post partum tinggi fundus uteri teraba pertengahan pusat simpisis dengan berat uterus 500 gr.
· Dua minggu post partum tinggi fundus uteri tidak teraba diatas simpisis dengan berat uterus 350 gr.
· Enam minggu post partum fundus uteri bertambah kecil dengan berat uterus 50 gr.
( Mochtar, Rustam 1998 : 115 )
B. Lochia
Lochia adalah cairan sekret yang berasal dari cavum uteri dan vagina dalam masa nifas.
Macam-macam Lochia :
o Lochia Rubra ( Cruenta ) : Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban , sel-sel desidua, verniks kaseosa, lanugo, dan mekonium, selama 2 hari post partum.
o Lochia Sanguinolenta : Berwarna merah kuning berisi darah dan lendir, hari 3-7 post partum.
o Lochia Serosa : Berwarna kuning, cairan tidak darah lagi, pada hari ke 7-14 post partum.
o Lochia Alba : Cairan putih, setelah 2 minggu.
o Lochia Purulenta : Terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk.
o Lochiastasis : Lochia tidak lancar keluarnya.
( Mochtar, Rustam, 1998 : 116 )
C. Serviks
(lebih…)

Read Full Post »

Tanda-tanda vital seorang manusia antara lain:
1. Tekanan darah
2. Nadi / pols
3. Suhu Tubuh / temperatur
4. Pernapasan

TEKANAN DARAH
Jumlah tekanan darah yang normal berdasarkan usia seseorang adalah:
– Bayi usia di bawah 1 bulan     : 85/15 mmHg
– Usia 1 – 6 bulan     : 90/60 mmHg
– Usia 6 – 12 bulan    : 96/65 mmHg
– Usia 1 – 4 tahun    : 99/65 mmHg
– Usia 4 – 6 tahun    : 160/60 mmHg
– Usia 6 – 8 tahun    : 185/60 mmHg
– Usia 8 – 10 tahun    : 110/60 mmHg
– Usia 10 – 12 tahun    : 115/60 mmHg
– Usia 12 – 14 tahun    : 118/60 mmHg
– Usia 14 – 16 tahun    : 120/65 mmHg
– Usia 16 tahun ke atas    : 130/75 mmHg
– Usia lanjut        : 130-139/85-89 mmHg


Seseorang dikategorikan hypertensi berdasarkan tekanan darahnya adalah:
* Hypertensi rendah : 140 – 159/ 90-99 mmHg
* Hypertensi sedang : 160 – 169/100-109 mmHg
* Hypertensi berat    : 180 – 209/110-119 mmHg

Seseorang dikatakan hypotensi jika tekanan darahnya lebih kecil dari 110/70 mmHg

Tempat untuk mengukur tekanan darah seseorang adalah:
– Lengan atas
– Pergelangan kaki

NADI
Nadi adalah denyut nadi yang teraba pada dinding pembuluh darah arteri yang berdasarkan systol dan gystole dari jantung.

Jumlah denyut nadi yang normal berdasarkan usia seseorang adalah:
– Bayi baru lahir        : 140 kali per menit
– Umur di bawah umur 1 bulan        : 110 kali per menit
– Umur 1 – 6 bulan        : 130 kali per menit
– Umur 6 – 12 bulan        : 115 kali per menit
– Umur 1 – 2 tahun        : 110 kali per menit
– Umur 2 – 6 tahun        : 105 kali per menit
– Umur 6 – 10 tahun        : 95 kali per menit
– Umur 10 – 14 tahun        : 85 kali per menit
– Umur 14 – 18 tahun        : 82 kali per menit
– Umur di atas 18 tahun        : 60 – 100 kali per menit
– Usia Lanjut            : 60 -70 kali per menit

Jika jumlah denyut nadi di bawah kondisi normal, maka disebut pradicardi.
Jika jumlah denyut nadi di atas kondisi normal, maka disebut tachicardi.

Tujuan mengetahui jumlah denyut nadi seseorang adalah:
* Untuk mengetahui kerja jantung
* Untuk menentukan diagnosa
* Untuk segera mengetahui adanya kelainan-kelainan pada seseorang

Tempat-tempat menghitung denyut nadi adalah:
Ateri radalis        : Pada pergelangan tangan
Arteri temporalis    : Pada tulang pelipis
Arteri caratis    : Pada leher
Arteri femoralis    : Pada lipatan paha
Arteri dorsalis pedis    : Pada punggung kaki
Arteri politela    : pada lipatan lutut
Arteri bracialis    : Pada lipatan siku
Ictus cordis        : pada dinding iga, 5 – 7

SUHU
Tempat untuk mengukur suhu badan seseorang adalah:
– Ketiak/ axilea, pada area ini termometer didiamkan sekitar 10 – 15 menit
– Anus/ dubur/ rectal, pada area ini termometer didiamkan sekitar 3 – 5 menit
– Mulut/oral, pada area ini termometer didiamkan sekitar 2 – 3 menit

Seseorang dikatakan bersuhu tubuh normal, jika suhu tubuhnya berada pada 36oC – 37,5oC
Seseorang dikatakan bersuhu tubuh rendah (hypopirexia/hypopermia), jiak suhu tubuhnya < 36oC
Seseorang dikatakan bersuhu tubuh tinggi/panas jika:
Demam : Jika bersuhu 37,5 oC – 38oC
Febris : Jika bersuhu 38oC – 39oC
Hypertermia : Jika bersuhu > 40oC

PERNAPASAN
Pola pernapasan adalah:
– Pernapasan normal (euphea)
– Pernapasan cepat (tachypnea)
– Pernapasan lambat (bradypnea)
– Sulit/sukar bernapas (oypnea)

Jumlah pernapasan seseorang adalah:
– Bayi : 30 – 40 kali per menit
– Anak : 20 – 50 kali per menit
– Dewasa : 16 – 24 kali per menit

A. PEMERIKSAAN FISIK BAYI BARU LAHIR

Kegiatan ini merupakan pengkajian fisik yang dilakukan oleh bidan yang bertujuan untuk memastikan normalitas & mendeteksi adanya penyimpangan dari normal.
Pengkajian ini dapat ditemukan indikasi tentang seberapa baik bayi melakukan penyesuaian terhadap kehidupan di luar uterus dan bantuan apa yang diperlukan.
Dalam pelaksanaannya harus diperhatikan agar bayi tidak kedinginan, dan dapat ditunda apabila suhu tubuh bayi rendah atau bayi tampak tidak sehat.

(lebih…)

Read Full Post »

 
Pemerintah melalui Depkes memberikan kebijakan yakni paling sedikit ada 4 kali kunjungan pada masa nifas
Tujuan :
  1. Untuk menilai kesehatan ibu dan bayi baru lahir
  2. Pencegahan terhadap kemungkinan adanya gangguan kesehatan ibu nifas dan bayinya
  3. Mendeteksi adanya kejadian-kejadian masa nifas
  4. Menangani berbagai masalah yang timbul dan mengganggu kesehatan ibu maupun bayi pada masa nifas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menurut saifuddin kunjungan nifas dilakukan paling sedikit 4 kali kunjungan yang dilakukan untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir, dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang terjadi.

6-8 jam setelah persalinan
  1. Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
  2. Mendeteksi dan merawat penyebab lain pada perdarahan, rujuk bila perdarahan
  3. Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana cara mencegah  perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
  4. Pemberian ASI awal
  5. Melakukan hubungan antara ibu dan bayi (Bounding Attachment)
  6. Menjaga bayi tetap sehat dengan mencegah hipotermia.

(lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »

freyadefunk

Blog berisi materi-materi kebidanan dan kesehatan :)

Arleta Fenty - she talks in math

I'm a priest God never paid..

FatmaNita

Serba Serbi Cinta, Teman, Pengetahuan, Lirik, dan Teknologi :)

Fiazku

Kecerdasan Manusia Bodoh

PITHECANTROPUS

Fatwa Absurdius Puitica Shalalala

Dunia Koponk

koponk adalah berisi,berisi adalah koponk

tututdwijayanti

Just another WordPress.com site

Belibis A-17

Berputar di Lingkaran Kedokteran, Blogging, Musik, Pikiran, Perasaan and Seni

Triwulandari

Berani, Disiplin Dan Setia

Kuliah Bidan

Jalan Panjang untuk menjadi seorang Bidan

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.